Subscribe:

Astronomi

Kamis, 15 November 2012

Mimikri pada Bunglon

MEKANISME MIMIKRI PADA BUNGLON
Mimikri
Pada  vertebrata dibina atas 2 lapis utama yaitu epidermis dan dermis. Epidermis ini tumbuh terus karena lapisan terdalam terdiri dari sel-sel benih epitel yang terus bermitosis seumur hidup, membentuk sel-sel baru yang bergerak ke arah luar. Pada sel-sel terdalam epidermis terdapat melanosit, sel berisi pigmen melanosit. Pada bangsa berkulit gelap melanosit ada yang sampai menerobos ke dermis.
Melanosit berbentuk tetap pada vertebrata tinggi (Aves, Mamalia) sedang pada vertebrata rendah (Pisces, Amphibi, Reptilia) dapat berubah bentuk malahan dapat amoeboid. Dengan proses kembang-susut melanosit ini, hewan dapat mengatur warna kulit, yang berguna sebagai mimikri. Jadi fungsi pigmen pada hewan berdarah dingin (Amphibi, Pisces, Reptilia) adalah sebagai pelindung yaitu dengan mimikri, berguna untuk menyamarkan diri dari lingkungan sehingga mudah menangkap mengsa atau tidak dapat diterkam musuh. (Yatim, 1987)
`     Sebelumnya perlu dibahas mengenai mimikri dan kamuflase, mungkin tidak sedikit yang menganggap kedua istilah tersebut sama, karena memang keduanya adalah perilaku untuk pertahanan diri, tetapi terdapat perbedaan antara keduanya. Bedanya mimikri merupakan proses adaptasi dimana warna kulit hewan akan berubah  karena peranan pigmen kulit sesuai dengan tempatnya ia singgahi untuk melindungi diri dari predator dan mencari mangsanya contoh bunglon, sedangkan kamuflase adalah proses adaptasi yang menyamakan atau menyeragamkan warna kulit dengan lingkungan sekitarnya untuk melindungi diri dari predator atau untuk mencari makan contoh: katak serasah di serasah daun, belalang di daun, dll. Jadi secara singkatnya mimikri adalah salah satu cara hewan berkamuflase
B.     Bunglon
Deskripsi tubuh bunglon
Bunglon kebun yang berukuran sedang, berekor panjang menjuntai. Panjang total hingga 550 mm, dan empat-perlimanya adalah ekor. Gerigi di tengkuk dan punggungnya lebih menyerupai surai (jubata artinya bersurai). Gerigi ini terdiri dari banyak sisik yang pipih panjang meruncing namun lunak serupa kulit. Kepalanya bersegi-segi dan bersudut. Dagu dengan kantung lebar, bertulang lunak. Mata dikelilingi pelupuk yang cukup lebar, lentur, tersusun dari sisik-sisik berupa bintik-bintik halus yang indah.
Dorsal (sisi atas tubuh) berwarna hijau muda sampai hijau tua, yang bisa berubah menjadi coklat sampai kehitaman bila merasa terganggu. Sebuah bercak coklat kemerahan serupa karat terdapat di belakang mulut di bawah timpanum. Deretan bercak serupa itu, yang seringkali menyatu menjadi coretan-coretan, terdapat di bahu dan di sisi lateral bagian depan, semakin ke belakang semakin kabur warnanya.
Sisi ventral (sisi bawah tubuh) kekuningan sampai keputihan di dagu, leher, perut dan sisi bawah kaki. Telapak tangan dan kaki coklat kekuningan. Ekor di pangkal berwarna hijau belang-belang kebiruan, ke belakang makin kecoklatan kusam dengan belang-belang keputihan di ujungnya. Sisik-sisik bunglon surai keras, kasar, berlunas kuat; ekornya terasa bersegi-segi. Perkecualiannya adalah sisik-sisik jambul, yang tidak berlunas dan agak lunak serupa kulit.
Bunglon yang kerap ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon peneduh di kebun dan pekarangan. Sering pula didapati terjatuh dari pohon atau perdu ketika mengejar mangsanya, namun dengan segera berlari menuju pohon terdekat. Reptil ini memangsa berbagai macam serangga yang dijumpainya: kupu-kupu, ngengat, capung, lalat dan lain-lain. Untuk menipu mangsanya, bunglon ini kerap berdiam diri di pucuk pepohonan atau bergoyang-goyang pelan seolah tertiup angin.
Keistimewaan Bunglon
Bunglon merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki kaki penjepit. Cengkraman kaki mereka sangat cocok untuk mendaki pohon yang menjadi tempat tinggalnya, meski mereka memiliki pergerakan tubuh yang sangat lamban. Dari semua itu, bunglon memiliki kekhasan luar biasa yaitu lidah yang sangat panjang. Panjang lidahnya ini bisa dua kali panjang tubuhnya dan dilengkapi cairan kimia yang sangat lengket. Cairan ini sangat berguna untuk menyambar mangsanya, yang sebagian besar adalah serangga.
Dalam buku teks zoologi dijelaskan bahwa lidah balistik bunglon memiliki kekuatan akibat keberadaan otot akselerator (pemercepat). Otot ini memanjang bersamaan dengan ia menekan tulang lidah yang memiliki tulang rawan yang kaku di pusat lidah yang membungkusnya. Untuk mengetahui kinerja lidah bunglon saat menangkap mangsa, dua peneliti asal Belanda, Jurriaan de Groot dari Universitas Leiden dan Johan van Leeuwen dari Universitas Wageningen melakukan percobaan menggunakan kamera sinar X berkecepatan tinggi.
C.     Mekanisme Mimikri pada Bunglon
Selain keistimewaan lidahnya, hal yang paling menarik dari bunglon adalah kemampuannya dalam mengubah warna kulit sesuai dengan lingkungan yang dihinggapi. Ketika hinggap di batang pohon kulitnya pun akan berubah sesuai warna batang pohon, ketika hinggap di daun pun kulitnya menjadi hijau.
Banyak orang berpikir bunglon berubah warna untuk berbaur dengan lingkungan mereka. Namun para ilmuwan tidak setuju. Penelitian mereka menunjukkan bahwa cahaya, suhu, dan suasana hati bunglon menyebabkan perubahan warna. Kadang-kadang perubahan warna dapat membuat bunglon lebih nyaman dan membantu berkomunikasi hewan dengan bunglon lain.
http://3.bp.blogspot.com/_Hg5o4lsAmKA/S8SgYom6jWI/AAAAAAAAAKs/qDJ5A-nm__U/s320/chameleon2.jpghttp://1.bp.blogspot.com/_Hg5o4lsAmKA/S8SZSKC2MgI/AAAAAAAAAKk/HzVP7ARETS4/s320/chameleon.jpgBunglon mengubah coraknya dalam jangkauan warna yang dimiliki pada spesiesnya yang telah berevolusi. Perubahan ini meliputi semua warna, mulai dari warna biru air laut hingga pink pucat. Bahkan, terkadang terdapat beberapa bunglon yang bisa berubah warna menjadi berpola garis-garis dan titik-titik. Perubahan warna pada beberapa spesies bunglon lain terbatas hanya pada warna-warna tertentu, seperti merah, kuning dan hijau.
 Menurut kepala Fakultas biologi University of Texas Jonathan A. Campbell dan peneliti herpetologi atau studi amfibi dan reptil. Kecepatan kadal mengubah warnanya juga beragam. Namun, perubahan warna ini berada di bawah kondisi yang tepat dan berlangsung selama beberapa detik, Terkadang, saat perubahan suhu di lingkungan terjadi dengan sangat lambat, perubahan warna pada bunglon juga akan makin lambat. Ada lebih dari 100 jenis bunglon. Sebagian besar perubahan dari coklat sampai hijau kembali. Sebuah perubahan dapat terjadi dalam 20 detik.
Mekanisme Perubahan Warna pada Bunglon
Pada bunglon terdapat bagian otak yang bernama epitalamus, pada manusia bagian ini tidak berkembang saat terjadi perkembangan embrio dalam janin ibu. Epitalamus ini bermanfaat untuk menginformasikan adanya cahaya yang masuk. Epitalamus akan mengolah rangsang yang masuk kemudian menghantarkannya ke seluruh saraf tepi di seluruh permukaan kulit bunglon, untuk mengubah warna kulit. Perubahan warna kulit ini dibantu oleh hormon dan pigmen(zat warna pada kulit) untuk mengubah susunan pola warnanya sehingga terekspresikan sesuai dengan sinyal saraf yang diterimanya.
Hormon yang berperan dalam proses ini yaitu Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis tepatnya pada lobus intermedia. Hormone ini mempengaruhi perubahan warna kulit, dimana pada Reptil, Amphibi, dan Pisces berkembang baik sedang pada mamalia kurang berkembang. Untuk dapt memperlihatkan efek biologis, hormon harus berinteraksi dengan sel sasaran melalui reseptor khusus yang disebut reseptor hormon. Interaksi hormon ini biasabya terjadi melalui pembentukan kompleks hormone reseptor. Reseptor hormone pada sel sasaran biasanya berupa protein besar dengan bentuk tiga dimensi. Protein tersebut hanya akan berikatan dengan hormone tertentu yang sesuai dengan analognya yaitu senyawa yang mempunyai gugus fungsional sama dengan gugus fungsional hormone tersebut. Kurang lebih seperti itulah mekanisme aksi oleh suatu hormon.
Sebuah pigmen warna kuit yang disebut melanin juga membantu bunglon berubah warna. Melanin serat seperti sarang laba-laba dapat menyebar melalui lapisan sel pigmen. Kehadiran mereka menyebabkan kulit menjadi lebih gelap.
Pada dasarnya, kulit bunglon terdiri dari sel-sel khusus yang memiliki warna atau pigmen di dalamnya. Sel-sel ini terletak di lapisan bawah kulit luar bunglon. Lapisan-lapisan ini berisi sel yang terkait erat satu sama lain yang disebut chromatophores. Lapisan ini memantulkan cahaya dan dipenuhi melamin pigmen alami. Lapisan atas chromatophores memiliki pigmen merah atau kuning, sedang lapisan bawah memiliki pigmen biru atau putih.
Perubahan warna pada bunglon berawal bari ketika mata bunglon menangkap warna lingkungan sekitarnya, kemudian cahaya ini disalurkan ke bagian epitalamus. Selanjutnya, epitalamus akan mengolah rangsang yang masuk lalu menghantarkannya ke seluruh saraf tepi di semua permukaan kulit bunglon dan chromatophore akan menangkap pesan dari otak tersebut. Dengan begitu, chromatophore akan membesar atau mengecil. Membesar atau mengecilnya chromatophore akan mengakibatkan pigmen-pigmen bercampur dan akan membentuk warna yang menyerupai lingkungan sekitarnya.
Namun tidak hanya karena rangsang cahaya saja yang dapat merangsang bunglon untuk merubah warnanya, tetapi suhu tubuh, tingkat tekanan, dan perubahan suasana hati seperti terkejut, stress, takut, birahi biasanya juga diekspresikan dengan merubah warna kulitnya. Karena faktor-faktor tersebut, sinyal neurotransmitter tertentu pada sel chromatophores akan berkontraksi dan akan menyebabkan warna kulitnya berubah.
Ketika bunglon cokelat memutuskan untuk beristirahat di bawah sinar matahari. Otak bunglon memberitahu sel-sel kuning di kulit untuk menjadi lebih besar daripada sel biru di bawah ini. Tiba-tiba bunglon berubah menjadi hijau. Wana ini lebih terang sehingga membantu kulit memantulkan sinar matahari cerah. Dalam hal ini, berarti bunglon telah mendapat rangsang berupa cahaya. Sedangkan rangsang berupa suhu, misalnya ketika seekor bunglon dingin, akan berubah warna lebih gelap. Karena warna gelap menyerap panas lebih dari yang ringan. Namun dari beberapa faktor di atas, yang paling mungkin menyebabkan perubahan warna ialah suasana hati. Misalnya ketika bunglon sedang meras tenang, bisa saja warna yang nampak adalah warna hijau karena sel kuningnya tidak terlalu melebar sehingga masih bisa memantulkan sel biru dari bawahnya. Sementara pada bunglon yang marah bisa saja warna yang nampak adalah kuning, karena selnya melebar semua sehingga tidak menampakkan refleksi warna biru. Atau disaat bunglon merasa terancam , ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan

Kamuflase Pada Hewan (Mimikri)
oleh : wahyu riyadi, Ph.d

Di alam, setiap kelebihan yang dimiliki akan meningkatkan kemampuan hewan untuk bertahan hidup. Fakta sederhana ini membuat semua jenis hewan mengembangkan kemampuan adaptasi khusus yang membantu mereka untuk menemukan makanan dan menjaga mereka dari para predator. Salah satu dari kemampuan adaptasi yang paling banyak dimiliki adalah kamuflase. Suatu kemampuan agar terlihat menyerupai lingkungan sekitar atau membuat diri mereka menyerupai sesuatu yang berbahaya dan tidak menarik untuk memperdayai predator.

frog-camouflage


Kamuflase warna (coloring camouflage)
adalah kamuflase yang paling umum dimiliki oleh hewan. Lebih sedikit lagi hewan yang dapat merubah warna tubuh berbeda untuk menyesuaikan dengan warna sekitarnya.


Prinsip dasar kamuflase adalah
perubahan warna menyerupai keadaan sekitar. Tentu saja keadaan lingkungan sekitar hewan berubah dari waktu ke waktu. Banyak hewan yang mempunyai kemampuan special beradaptasi yang memungkinkan mereka melakukan perubahan warna mengikuti perubahan warna lingkungan sekitar.

Mekanisme Perubahan Warna Hewan

Mekanisme perubahan warna terjadi melalui dua mekanisme umum. Secara kimia dengan Biochrome dan fisika melalui struktur fisik mikroskopik kulit atau bulu..

Biochrome adalah pigment alami mikroskopik pada tubuh hewan yang memproduksi warna secara kimia. Zat-zat kimia tersebut bersifat mengabsorb beberapa warna dan merefleksikan warna lainnya. Warna yang terlihat merupakan kombinasi dari semua panjang gelombang visible yang direfleksikan pigment kimia itu.

Selain itu hewan juga dapat memproduksi warna melalui struktur fisika microskopik. Prinsipnya, struktur ini berfungsi sebagai prisma yang merefraksikan dan mendifraksikan cahaya sehingga kombinasi warna akan tercipta membentuk warna tertentu.

Beruang kutub contohnya.


beruang putih

Mereka sebenarnya memiliki kulit berwarna hitam. Namun nampak putih karena mereka mempunyai bulu rambut translucent. Ketika cahaya jatuh pada bulu, cahaya akan sedikit dibengkokkan. Hal ini memantulkan cahaya ke sekitarnya. Sebagian ada yang sampai di kulit, sebagian lagi dipantulkan keluar, menghasilkan warna putih.


Pada beberapa hewan, dua tipe pewarnaan tersebut digabungkan. Misalnya pada reptile, amphibi, dan ikan dengan warna hijau. Biasanya mereka mempunyai lapisan kulit dengan pigment kuning dan lapisan kulit yang memecah cahaya untuk merefleksikan warna biru. Bersama-sama kombinasi ini menghasilkan warna hijau.

Kedua pewarnaan kimia dan fisika ini diturunkan secara genetic. Di alam liar, hewan yang berkamuflase paling mirip dengan alam sekitar dapat mengelabui para predator, dan hidup lebih lama.

Perubahan Warna Pada Burung dan Mamalia

Hanya sebagian kecil hewan yang dapat merubah warna tubuhnya dengan cepat dan seketika. Hewan-hewan ini biasanya jenis reptile, amphibi, dan ikan. Sementara hewan lain seperti burung dan mamalia perlu waktu lama dalam merubah warna tubuhnya menyerupai keadaan sekitar.

Misalnya dalam mengantisipasi perubahan besar yang terjadi karena pergantian musim. Perubahan musim menyebabkan perubahan lingkungan yang signifikan. Terutama di negara yang mengalami empat musim berbeda.

Pada musim semi dan musim panas, habitat mamalia penuh warna hijau dan coklat. Sementara saat musim gugur dan musim dingin, semua permukaan tanah terutupi salju yang putih.

Warna coklat mendominasi nuansa kayu musim panas, sehingga hewan yang memiliki warna kontras sangat mudah terlihat dan mudah menjadi target pemangsa. Banyak burung dan mamalia menyiasati hal ini dengan memproduksi bulu-bulu baru dengan warna yang berbeda. Pada kebanyakan kasus, perubahan jumlah cahaya matahari atau perubahan temperature akan menginisiasi reaksi hormonal yang menyebabkan hewan memproduksi biochrome berbeda.

Bulu-bulu pada hewan seperti rambut dan kuku pada manusia, mereka sesungguhnya jaringan sel mati. Sehingga karena bulu-bulu tersebut adalah sel-sel mati, maka hewan tidak dapat mengatur komposisinya. Konsekuensinya burung dan mamalia harus memproduksi seluruh bulu-bulu baru dengan warna baru. Sehingga pada akhirnya hewan tersebut mempunyai penampilan bulu yang sama sekali berbeda dengan warna sebelumnya.

Perubahan Warna Pada Reptil, Amphibi, dan Ikan

Pada kebanyakan reptile, amphibi, dan ikan warna tubuh ditentukan oleh biochrome yang terdapat dalam sel hidup. Biochrome bisa terdapat di dalam sel pada permukaan kulit atau pada bagian yang lebih dalam, di sebut chromatophores.

sotong

Beberapa hewan, seperti pada spesies ikan sotong, dapat memanipulasi chromatophores mereka untuk merubah warna seluruh kulit mereka. Hewan memiliki sekumpulan chromatophores, setiap chromatophores mengandung satu single pigment. Individual chromatophores dikelilingi oleh otot-otot lingkar yang dapat mengerut (kontraksi) dan meregang. Ketika ikan sotong mengerutkan otot, seluruh pigment akan mengalir ke permukaan chromatophore. Sel-sel di bagian atas akan mengembang membentuk lingkaran besar. Jika otot-otot dalam keadaan rileks, sel kembali ke bentuk semula berupa lingkaran kecil yang sulit di lihat. Dengan melakukan konstraksi pada semua chromatophores dengan pigment tertentu, dan merelaks-kan otot yang lain dengan pigment berbeda, hewan dapat merubah secara keseluruhan warna pada tubuh mereka.

Ikan sotong dengan kemampuan ini dapat membuat warna dangan range yang lebar dan corak ynag menarik. Dengan mengamati pola warna dari latar lingkungan dan meregangkan kombinasi yang tepat dari chromatophore, hewan dapat menyatu menyerupai keadaan warna alam sekitar. Ikan sotong juga menggunakan kemampuan merubah warna tubuh ini untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Perubah warna yang sangat terkenal, chameleon (bunglon), merubah warna kulitnya dengan mekanisme yang sama. Perubahan dimulai ketika mata mengamati lingkungan sekitar. Respon dari mata kemudian disampaikan ke otak, dan otak menggerakkan otot-otot chromatophore sehingga merubah warna kulit tubuh menyerupai sekitarnya.

Tapi perubahan warna kulit demi tujuan untuk kamuflase. Beberapa species Chameleon merubah warna kulitnya lebih karena perubahan mood. Bukan karena mereka bergerak ke lingkungan dengan nuansa warna yang berbeda. Perubahan mood, seperti terkejut, stress, takut, birahi, diekspresikan dengan perubahan warna kulit tubuhnya.

chameleon 1

chameleon 2



Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk di ketahui. Terimakasih bagi semua sahabat yang membaca ini dan telah mendoakan evi agar semakin sehat serta dari dorongan pembacalah membuat evi ingin selalu semangat menulis, membaca dan berbagi ilmu. Jazakumullah khoir katsiiran.


"Tidakkah kami tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sholat dan tasbihnya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Qs. 24:41)

"Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan) karena kaum mujahidin melaksanakan ajaran para rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi." (HR. Ad-Dailami)

1. Sinar Matahari 
Ketika chameleon coklat ingin berjemur di bawah sinar matahari, maka si chameleon akan mengubah warna kulitnya menjadi hijau untuk memaksimalkan refleksi sinar matahari yang didapat. 

2. SUHU
Ketika suhu dingin, kulit chameleon akan berubah berwarna lebih gelap untuk memaksimalkan penyerapan panas. 

3. MOOD
Chameleon jantan yang 'ditantang' chameleon lain bisa berubah warna menjadi merah kekuningan. Atau ketika si chameleon 'fall in love', bisa juga warnanya berubah untuk menarik perhatian, misalnya ungu, biru dan kemerahan.
Bunglon merupakan sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Banyak orang yang mengartikan bahwa bunglon mengubah warna kulitnya sebagai kamuflase atau respon terhadap musuh dan bahaya. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. 
Bunglon memang memiliki kemampuan untuk mengubah warna kulitnya. Tetapi, bunglon tidak bisa berubah kulit ke semua warna, melainkan hanya ke warna-warna tertentu saja. 
Lalu, mengapa bunglon dapat mengubah warna kulitnya? Tentu saja hal ini didukung oleh adanya fungsi dalam tubuh bunglon yang mendukung fungsi tersebut. 
4. BUNGLON MEMILIKI SEL-SEL WARNA
Bunglon memiliki sel-sel warna di bawah permukaan kulitnya yang transparan. Di bawah lapisan ini terdapat dua lapisan sel yang mengandung pigmen berwarna merah dan kuning (juga disebut chromatophores).

Di bawahnya lagi ada lapisan sel yang merefleksikan warna biru dan putih. Lalu di bawahnya lagi ada lapisan melanin untuk warna coklat (seperti yang dimiliki manusia).


sumber: http://www.apakabardunia.com/2011/05/inilah-penyebab-bunglon-bisa-berganti.html
http://amiyaketunis.blogspot.com/2012/01/mimikri-pada-bunglon.html
http://eviandrianimosy.blogspot.com/2010/04/kamuflase-pada-hewan-mimikri.html
http://mantabjayapolpolan.blogspot.com/2011/05/4-penyebab-bunglon-bisa-mimikri.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar