Subscribe:

Astronomi

Minggu, 14 Juli 2013

Peneliti Temukan Tanaman Bercahaya

 
Pohon yang menyala dalam gelap akan segera menjadi alternatif alami untuk lampu penerangan jalan, menurut para ilmuwan. Para peneliti di proyek Glowing Plant di California telah memindahkan gen bersinar pada kunang-kunang pada tanaman untuk membuatnya menyala dalam gelap.

Tim ini berharap untuk memperluas teknik ini pada tanaman yang lebih besar dan pohon-pohon, serta menggunakannya untuk menggantikan lampu listrik.

Antony Evans dari Universitas Cambridge, Kyle Taylor dan Omri Amirav-Drory dari Stamford, telah menciptakan tanaman
"glow-in-the-dark" di biolab DIY di California.

Tim ini terinspirasi oleh kunang-kunang dan cacing bercahaya yang memproduksi apa yang disebut bioluminescence. Bioluminescence adalah proses yang membuat makhluk ini menghasilkan cahaya yang terjadi secara alamiah dari tubuhnya.

Tim ini memulai dengan mendapatkan enzim protein bercahaya yang disebut Luciferase, dari gen kunang-kunang atau dari bakteri. Mereka kemudian menggunakan perangkat lunak yang disebut Genome Compiler yang memungkinkan tanaman membaca gen. Gen tersebut kemudian dibuat di laboratorium dan dikirim ke tim di California.

Evans dan timnya menempatkan gen ini dalam agrobacteria cair, dan bakteri ini dituangkan di atas tanaman. Agrobacteria mampu mentransfer gen ke dalam tanaman, dan ketika gen bersinar ditambahkan, mereka memindahkannya ke tanaman, yang membuatnya bersinar dalam gelap. Untuk membuat gen ini, para ilmuwan harus mendesain ulang urutan DNA.



Seperti dilaporkan laman Mail Online, mereka telah berhasil menciptakan tanaman kecil bersinar dan kini mereka meminta dana tambahan, melalui kampanye Kickstarter, menggunakan teknologi ini pada tanaman atau pohon yang lebih besar.
Seperti yang kita tahu, energi yang dikonsumsi oleh kita banyak sekali yang tidak bisa diperbaharui, termasuk lampu sebagai sumber cahaya. Sering kita mendengar tentang menghemat energi dengan mematikan lampu ketika tidak dibutuhkan, lampu mengkonmsi listrik dan listrik banyak menghasilkan CO2 dalam proses pengadaannya.

Sedangkan kehidupan adalah sesuatu yang bisa diperbaharui, direproduksi tanpa menghasilkan emisi apapun. Dengan memanfaatkan DNA yang ada di kunang-kunang, tanaman yang bisa menyala ini dibuat untuk bisa menggantikan penggunaan cahaya lampu.



Tanaman yang menyala ini sudah pernah ada pada tahun 1986, namun masih belum sempurna. Masih membutuhkan bahan tambahan bernama luciferin untuk bisa menyala. Luciferin merupakan bahan yang membuat kunang-kunang bisa menyala. Pada tahun 1989, akhirnya gen yang memproduksi luciferin ini bisa di urutkan dari kunang-kunang. Membuatnya dapat diaplikasikan pada makhluk hidup lain, termasuk bakteri dan tanaman. Seiring majunya teknologi biology, produk rekayasa genetik ini bisa dijual untuk konsumen dan di awali melalui proyek ini.

Selain tanaman yang menyala, proyek ini juga termasuk membuat kerangka kerja dan aturan untuk membuat produk biologi sintetis. Kerangka kerja ini akan menyediakan panduan dan batasan bagi siapapun yang ingin membuat produknya sendiri. Termasuk juga rekomendasi proyek yang aman dan rekomendasi bagaimana proses yang benar. Kerangka kerja ini ditujukan untuk mempercepat proses perkembangan produk biologi sintetis. Terutama di era kolaborasi internet seperti saat ini.

Visinya memang bagus, namun masih membutuhkan langkah panjang untuk mencapainya. Proyek ini masih membutuhkan banyak penyempurnaan dan belum siap untuk benar-benar menggantikan cahaya lampu, selain itu banyak isu lain yang belum ditangani, misalnya batasan-batasan ataupun legalitas. Namun ini baru saja dimulai. Langkah ini bisa menjadi simbol energi yang terbarukan. Dan bisa menginpirasi ilmuan lainnya untuk menghasilkan produk biologi sintetis lain yang meningkatkan kualitas hidup manusia
sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/51d51c1f48ba54776500000b/peneliti-temukan-tanaman-bercahaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar